Sejarah Islam
penuh dengan arsitek-arsitek jenius. Beberapa bangunan terkenal di muka bumi
adalah produk dari engineermuslim.
Mereka membangun struktur indah yang menunjukkan kebesaran Islam di
sepanjang masa. Salah seorangnya adalah Mimar Sinan.
Siapakah
Mimar Sinan?
Ayah Mimar Sinan, Abdul Mannan, adalah
seorang mualaf yang berasal dari Yunani atau Armenia. Di masa mudanya, Mimar
mengikuti jejak ayahnya bergabung dalam korps tentara elit Utsmani, Yenicheri.
Tidak disangka, ternyata dalam dunia militer ini, jiwa dan bakat arsitekturnya
muncul. Seiring waktu berjalan, pangkat kemiliteran Mimar pun mulai naik, ia
menduduki posisi yang strategis dan dekat dengan Sultan Salim dan Sultan
Sulaiman. Ia turut serta dalam aktivitas-aktivitas militer Utsmani di Eropa,
Afrika, dan Persia.
Semakin banyak daerah baru yang menjadi
bagian Kerajaan Utsmani berbanding lurus dengan maraknya pembangunan di
daerah-daerah tersebut; pembangunan masjid dan bangunan-bangunan publik lainnya
menjadi rencana utama pembangunan setiap daerah. Saat itulah kemampuan
arsitektur Mimar semakin kentara dan kian terasah, ia turut serta dalam
pembangunan-pembangunan di wilayah baru. Akhirnya pada tahun 1538, kerajaan
benar-benar mengapresiasi kemampuannya ini dan menetapkannya sebagai Menteri
Pembangunan Kerajaan Utsmani.
Awal
Karir
Di Turki, Hagia Sophia selalu menjadi
inspirasi dalam hal arsitektur. Hagia Sophia awalnya adalah gereja Bizantium
yang dibangun pada tahun 537, ketika Muhammad al-Fatih menaklukkan Bizantium
dan populasi muslim kian bertambah, maka Hagia Sophia diubah menjadi masjid di
tahun 1453 dan sekarang Hagia Sophia dijadikan museum berdasarkan kebijakan
Kemal Ataturk.
ruang dalam
Masjid Sultan Sulaiman
Kubah Hagia Sophia yang besar dan megah
banyak ditiru oleh arsitek-arsitek muslim. Oleh karena itu, kita lihat
masjid-masjid di Turki memiliki kubah utama yang besar terletak di bagian
tengah dan dikelilingi kubah-kubah kecil di bagian sisinya. Di saat
arsitek-arsitek dari negeri lainnya tidak mampu membuat sebuah bangunan yang
lebih atau setara dengan keindahan Hagia Sophia, saat itulah Mimar Sinan
menunjukkan bawa ia bisa melakukannya. Keluar dari pakem dan standar yang telah
dibuat oleh para arsitek terdahulu, dan membuat bangunan yang lebih monumental.
Di masa awal karirnya, Mimar membangun
masjid-masjid kecil terlebih dahulu di wilayah-wilayah baru Utsmani. Ia membangun
Masjid Khusruwiyah di Aleppo, Suriah, pada tahun 1547. Masjid ini tetap berdiri
kokoh di era modern ini, namun saat ini mungkin telah hancur karena perang di
negeri Syam ini. Ia juga merenovasi Masjid Imam Abu Hanifah di Baghdad dan
Masjid Jalaluddin al-Rumi di Konya.
Proyek-proyek kecil ini terus mengasah
kemampuan seni merancang bangunan Mimar
Sinan untuk terus berkembang. Selain
itu pemerintah juga terus mendukungnya dan membantunya mengasah bakatnya dengan
proyek-proyek yang mereka berikan kepada Mimar.
Karya
Fenomenal Mimar Sinan
Setelah Sultan Sulaiman wafat pada tahun
1566 M, putranya dan pewaris tahtanya, Sultan Salim II, memiliki keinginan
serupa dengan ayahnya, yakni membangun masjid atas namanya dan diperuntukkan
untuk melayani kaum muslimin. Masjid Sultan Salim II ini rencananya akan
dibangun di Kota Edirne 200 Km dari Istanbul. Saat pembangunan berlangsung,
usia Mimar Sinan sudah menginjak 70 tahun lebih, namun semangatnya masih tetap
berkobar, ia tetap memendam impian mengalahkan kemegahan Hagia Sophia.
Dalam
otobiografinya, Mimar Sinan menyebutkan bahwa komplek Masjid Sultan Salim II
atau diseb
ut Selimye adalah masterpiece-nya.
Kubah masjid yang dibangun di atas tumpuan segi delapan memungkinkan masjid ini
dibangun dengan tinggi yang pada akhirnya mengalahkan Hagia Sophia. Hingga saat
ini Masjid Sultan Selim II menjadi landmark Kota Edirne.
Wafatnya
Mimar Sinan wafat pada tahun 1588 di
usia 98 tahun. Ia dimakamkan di komplek Masjid Sultan Sulaiman. Arsitek
kebanggaan Kerajaan Utsmani ini banyak meninggalkan warisan-warisan
pembangunan, yaitu: 90 masjid besar di seluruh wilayah kekuasaan Utsmani, 50
masjid kecil, 57 perguruan tinggi, 8 jembatan, dan berbagai gedung-gedung
sarana ublic di seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Utsmani. Ia juga mewarisi
murid-murid hebat Masjid Sultan Ahmad atau dikenal dengan Blue Mosque, Taj
Mahal di India.
Oleh karena itu, tidak heran apabila
Mimar Sinan dianggap sebagai arsitek terbesar dalam sejarah peradaban Islam. Ia
membangun bangunan-bangunan yang terus dikenang dan dikagumi oleh orang-orang
hingga abad modern ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar