Arsitek, Kreativitas dan Pengolahan Bentuk
Kata kreativitas tentu bukan sesuatu yang asing lagi bagi orang-orang yang
berkecimpung di bidang perancangan, salah satunya arsitektur. Pameo
“perancangan tanpa kreativitas ibarat sayur tanpa garam” misalnya, adalah
kata-kata yang acapkali terdengar di dunia pendidikan arsitektur untuk
menekankan pentingnya hal ini. Karenanya, kata kreativitas seringkali menjadi
pemacu semangat dalam proses merancang, namun tidak jarang pula ia terasa bagai
momok bagi para pemula dan mahasiswa perancangan. Hal ini dikarenakan mereka
merasakan adanya tuntutan yang besar untuk membuktikan kreativitas lewat hasil
rancangan mereka.
Kreativitas di dalam arsitektur seringkali diwujudkan dalam pengolahan
bentuk fisik bangunan yang aneh dan menarik perhatian. Semakin aneh dan menarik
perhatian bentuk yang dihasilkan, semakin kreatiflah si arsitek itu dianggap
oleh diri dan lingkungannya. Hal serupa terjadi pula di kalangan mahasiswa
arsitektur dan dunia pendidikan arsitektur pada umumnya. Bentuk yang berbeda
dan mencolok kerap kali mengundang decak kagum dan perhatian, baik dari sesama
mahasiswa maupun dari para dosen. Predikat kreatif lalu dianggap telah pantas
disematkan pada mahasiswa yang bersangkutan.
Pemaknaan kreativitas sebagai kemampuan pengolahan bentuk semata, seperti
dijelaskan di atas, sebenarnya merupakan sebuah pandangan yang memaknai
kreativitas secara sempit. Kerangka pikir ini akhirnya mengarahkan para arsitek
untuk berlomba-lomba mencari bentuk-bentuk baru yang rumit, menarik perhatian
dan mencengangkan. Sebaliknya, mereka tampaknya tidak terlalu peduli apakah
bentuk-bentuk yang baru itu memiliki makna yang dipahami oleh masyarakat
ataukah tidak. Padahal, masyarakatlah yang sehari-hari akan berinteraksi dengan
bangunan yang mereka rancang. Sebaliknya, sang arsitek mungkin hanya satu dua
kali (atau mungkin tidak pernah lagi) mengunjungi bangunan yang dirancangnya.
Dengan demikian, ia tentu tidak akan pernah menyadari dampak apa yang
ditimbulkan oleh bangunan yang dirancangnya kepada orang lain. Apakah
masyarakat memperoleh dampak yang positif, atau malah negatif? Mereka tidak
pernah tahu. Maka, kreativitas bisa jadi bukanlah sebutan yang tepat bagi
sebuah tindakan penonjolan bentuk fisik sebuah obyek arsitektur, terlebih jika
hal itu dibingkai pula oleh ketidakpedulian si arsitek akan dampak tindakannya
di kemudian hari.
Tidak jarang pula terjadi, arsitek
bahkan tidak menyadari apakah kreativitas yang ia miliki dan ia wujudkan dalam
bentuk-bentuk yang aneh itu merupakan cerminan dari idealisme-nya sebagai
arsitek, ataukah justru hanya bayangan buram dari egoisme-nya yang ingin
diakui, dikenal dan dihargai. Idealisme hadir sebagai wujud pertanggungjawaban
dari latar belakang pendidikan yang dimilikinya. Sebaliknya, egoisme justru
lebih merupakan gambaran ketidakterdidikan yang tersembunyi di balik
gelar-gelar akademisnya. Salah satu contoh kearifan di masa lalu tampaknya
dapat diangkat di sini untuk menunjukkan bahwa kreativitas yang dimiliki si
arsitek tidak selalu harus diukur dengan seberapa terkenalnya mereka di
masyarakat. Adalah sebuah kenyataan yang menarik untuk dicermati, bahwa
perkembangan pesat arsitektur Islam di awal peradaban Islam tidak diikuti
dengan penyebutan banyak nama sebagai arsitek dari bangunan-bangunan istana dan
masjid-masjid kuno di Asia Tengah dan Eropa Selatan. Sebagian besar mereka
tampaknya mencukupkan diri berada di balik layar dan membiarkan masyarakat
menilai kualitas bangunan yang mereka rancang. Fenomena yang berbeda tampak
saat ini, di mana kebanyakan arsitek berlomba-lomba untuk dikenal tanpa pernah
dapat menghasilkan karya yang pantas disebut sebagai arsitektur; “arsitek tanpa
arsitektur”.
Di dunia yang majemuk ini, tampaknya para arsitek harus dapat menarik garis
tegas untuk memisahkan “egoisme” mereka dengan “idealisme” dalam berarsitektur,
terutama untuk hal-hal yang dianggap membenturkan kreativitas (baca: pengolahan
bentuk) dengan realitas di masyarakat. Ada kalanya arsitek perlu belajar untuk
lebih banyak mendengar, merasakan, berempati dan mengakui bahwa sebagai
manusia, mereka juga memiliki kekurangan. Dengan demikian, mereka tidak akan
memaksakan, dengan alasan “kreativitas”, untuk menghadirkan bentuk-bentuk
arsitektural yang bisa jadi hanya baik di mata mereka sendiri, bukan di mata
masyarakat banyak. Kreativitas harus dikembalikan pada kedudukannya yang tepat
dan diberikan makna yang sesuai, bukannya sebagai kemampuan pengolahan
bentuk-bentuk fisik semata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar