Sabtu, 21 Februari 2015

Arsitek, Kreativitas dan Pengolahan Bentuk
     
    Kata kreativitas tentu bukan sesuatu yang asing lagi bagi orang-orang yang berkecimpung di bidang perancangan, salah satunya arsitektur. Pameo “perancangan tanpa kreativitas ibarat sayur tanpa garam” misalnya, adalah kata-kata yang acapkali terdengar di dunia pendidikan arsitektur untuk menekankan pentingnya hal ini. Karenanya, kata kreativitas seringkali menjadi pemacu semangat dalam proses merancang, namun tidak jarang pula ia terasa bagai momok bagi para pemula dan mahasiswa perancangan. Hal ini dikarenakan mereka merasakan adanya tuntutan yang besar untuk membuktikan kreativitas lewat hasil rancangan mereka.
       Kreativitas di dalam arsitektur seringkali diwujudkan dalam pengolahan bentuk fisik bangunan yang aneh dan menarik perhatian. Semakin aneh dan menarik perhatian bentuk yang dihasilkan, semakin kreatiflah si arsitek itu dianggap oleh diri dan lingkungannya. Hal serupa terjadi pula di kalangan mahasiswa arsitektur dan dunia pendidikan arsitektur pada umumnya. Bentuk yang berbeda dan mencolok kerap kali mengundang decak kagum dan perhatian, baik dari sesama mahasiswa maupun dari para dosen. Predikat kreatif lalu dianggap telah pantas disematkan pada mahasiswa yang bersangkutan.
Pemaknaan kreativitas sebagai kemampuan pengolahan bentuk semata, seperti dijelaskan di atas, sebenarnya merupakan sebuah pandangan yang memaknai kreativitas secara sempit. Kerangka pikir ini akhirnya mengarahkan para arsitek untuk berlomba-lomba mencari bentuk-bentuk baru yang rumit, menarik perhatian dan mencengangkan. Sebaliknya, mereka tampaknya tidak terlalu peduli apakah bentuk-bentuk yang baru itu memiliki makna yang dipahami oleh masyarakat ataukah tidak. Padahal, masyarakatlah yang sehari-hari akan berinteraksi dengan bangunan yang mereka rancang. Sebaliknya, sang arsitek mungkin hanya satu dua kali (atau mungkin tidak pernah lagi) mengunjungi bangunan yang dirancangnya. Dengan demikian, ia tentu tidak akan pernah menyadari dampak apa yang ditimbulkan oleh bangunan yang dirancangnya kepada orang lain. Apakah masyarakat memperoleh dampak yang positif, atau malah negatif? Mereka tidak pernah tahu. Maka, kreativitas bisa jadi bukanlah sebutan yang tepat bagi sebuah tindakan penonjolan bentuk fisik sebuah obyek arsitektur, terlebih jika hal itu dibingkai pula oleh ketidakpedulian si arsitek akan dampak tindakannya di kemudian hari.
           Tidak jarang pula terjadi, arsitek bahkan tidak menyadari apakah kreativitas yang ia miliki dan ia wujudkan dalam bentuk-bentuk yang aneh itu merupakan cerminan dari idealisme-nya sebagai arsitek, ataukah justru hanya bayangan buram dari egoisme-nya yang ingin diakui, dikenal dan dihargai. Idealisme hadir sebagai wujud pertanggungjawaban dari latar belakang pendidikan yang dimilikinya. Sebaliknya, egoisme justru lebih merupakan gambaran ketidakterdidikan yang tersembunyi di balik gelar-gelar akademisnya. Salah satu contoh kearifan di masa lalu tampaknya dapat diangkat di sini untuk menunjukkan bahwa kreativitas yang dimiliki si arsitek tidak selalu harus diukur dengan seberapa terkenalnya mereka di masyarakat. Adalah sebuah kenyataan yang menarik untuk dicermati, bahwa perkembangan pesat arsitektur Islam di awal peradaban Islam tidak diikuti dengan penyebutan banyak nama sebagai arsitek dari bangunan-bangunan istana dan masjid-masjid kuno di Asia Tengah dan Eropa Selatan. Sebagian besar mereka tampaknya mencukupkan diri berada di balik layar dan membiarkan masyarakat menilai kualitas bangunan yang mereka rancang. Fenomena yang berbeda tampak saat ini, di mana kebanyakan arsitek berlomba-lomba untuk dikenal tanpa pernah dapat menghasilkan karya yang pantas disebut sebagai arsitektur; “arsitek tanpa arsitektur”.

         Di dunia yang majemuk ini, tampaknya para arsitek harus dapat menarik garis tegas untuk memisahkan “egoisme” mereka dengan “idealisme” dalam berarsitektur, terutama untuk hal-hal yang dianggap membenturkan kreativitas (baca: pengolahan bentuk) dengan realitas di masyarakat. Ada kalanya arsitek perlu belajar untuk lebih banyak mendengar, merasakan, berempati dan mengakui bahwa sebagai manusia, mereka juga memiliki kekurangan. Dengan demikian, mereka tidak akan memaksakan, dengan alasan “kreativitas”, untuk menghadirkan bentuk-bentuk arsitektural yang bisa jadi hanya baik di mata mereka sendiri, bukan di mata masyarakat banyak. Kreativitas harus dikembalikan pada kedudukannya yang tepat dan diberikan makna yang sesuai, bukannya sebagai kemampuan pengolahan bentuk-bentuk fisik semata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar