Selasa, 15 Desember 2020

 

MAKNA SIMBOLIK PELAKSANAAN TRADISI NYADRAN DI DESA PLAMPANGREJO KABUPATEN BANYUWANGI



Tempat Nyadran


Bagi masyarakat Jawa, tradisi nyadran sudah menjadi tradisi wajib untuk dilakukan. Sebab tradisi nyadran merupakan bagian dari budaya turun temurun orang Jawa. Istilah nyadran sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu "Sraddha" yang artinya keyakinan. Secara sederhana nyadran adalah kegiatan ziarah makam leluhur yang dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat Jawa yang umumnya tinggal di pedesaan. Jadi, tradisi Nyadran adalah kegiatan ziarah makam leluhur yang dilakukan bersama-sama yang dilakukan secara turun temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Tradisi nyadran telah ada sejak zaman Hindu-Budha yang dilakukan oleh masyarakat Jawa hingga agama Islam masuk ke tanah Jawa. Bagi masyarakat Jawa, tradisi nyadran atau sadranan merupakan ungkapan refleksi sosial keagamaan sehingga tidak mengherankan jika pelaksanaan nyadran masih kental dengan budaya Hindu-Budha dan animisme yang telah diakulturasikan dengan nilai-nilai Islam oleh Wali Sanga.

Tradisi nyadran yang terdapat di Desa Plampangrejo memiliki keunikannya sendiri, dimana tradisi nyadran dilakukan ketika akan mengadakan sebuah hajatan baik khitanan maupun pernikahan. Nyadran dimasudkan sebagai penghormatan kepada leluhur (nenek moyang). Masyarakat Desa Plampangrejo menganggap para leluhur sebagai orang yang sangat berjasa terhadap keberadaan manusia saat ini. Oleh sebab itu, para leluhur pantas untuk diperhatikan atau dalam bahasa Jawa disebut uri-uri. Sebagai bentuk perhormatan, maka ketika akan mengadakan sebuah hajatan diperlukan yang namanya berpamitan. Sudah menjadi tradisi menjelang terselenggaranya hajatan, sebagian masyarakat Desa Plampangrejo melaksanakan tradisi nyadran atau sadran yang diwujudkan dengan berziarah ke petilasan Mbah Kendilwesi.

Dalam melakukan tradisi nyadran, masyarakat Desa Plampangrejo biasa membawa sesaji dan aneka makanan. Isi sesaji biasanya berupa kemenyan dan bunga telon yang terdiri dari bunga mawar, melati, dan kenanga. Makanan yang dibawa biasanya berupa tumpeng yang berisi ayam ingkung, rempeyek, sambal goreng, dan sambal kelapa. Jumlah dari makanan yang disediakan tergantung pada kemampuan masing-masing pemilik hajatan. Aneka makanan dan sesaji memiliki makna simbolis sebagai berikut:

·         Tumpeng, bentuknya sama seperti tumpeng pada umumnya yaitu berbentuk kerucut, ditaruh diatas nampan/tampah.  Makna tumpeng menurut masyarakat Plampangrejo merupakan sebuah lambang pengharapan kepada Tuhan agar permohonan terkabul. Dalam hal ini berkaitan dengan harapan agar acara hajatan nanti berjalan lancar.

·         Ingkung (ayam jago yang dimasak utuh), sebagai lauk pauk ingkung memberikan arti kepada masyarakat ketika melakukan pekerjaan dan acara semoga diberi kelancaran dan kemudahan.

·         Rempeyek, memiliki makna kebersamaan. Maka diharapkan dengan adanya acara hajatan dapat menjalin kebersamaan yang erat diantara masyarakat.

·         Sambal Goreng, biasanya terbuat dari tahu, kentang dan tempe yang ditumis dengan bumbu. Bahan-bahan yang dipotong menjadi potongan-potongan  kecil bermakna gotong royong dan guyup rukun dalam bermasyarakat.

·         Sambal Kelapa (bumbu urap) bermakna urip/hidup atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga dengan harapan agar rejeki pemilik hajatan selalu banyak dan melimpah.

·         Kemenyan merupakan sarana permohonan pada waktu berdoa kepada para leluhur agar diberikan keselamatan dan kelancaran dalam melaksanakan hajatan.

·         Bunga telon, melambangkan keharuman. Keharuman dalam hal ini merupakan kiasan dari berkah yang berlimpah dari para leluhur yang mengalir kepada anak keturunnya. Bunga telon terdiri dari 3 bunga setaman (kembang setaman) yaitu bisa terdiri dari  bunga mawar putih, mawar merah, dan kanthil, atau mawar, melati, dan kenanga, ataupun mawar, melati, dan kantil. Telon berasal dari kata telu (tiga), bermakna harapan agar meraih tiga kesempurnaan dan kemuliaan hidup yaitu sugih banda (kaya harta), sugih ngelmu (kaya ilmu) dan sugih kuasa (berkuasa).

 

Sesaji diberikan bertujuan untuk menghormati leluhur yaitu Mbah Kendilwesi karena sudah menemukan cikal bakal desa dan melindungi desa Plampangrejo. Sehingga diharapkan hajatan yang akan diselenggarakan dapat berjalan lancar dan sukses. Berkaitan dengan aneka makanan yang dibawa merupakan wujud bentuk rasa syukur keluarga atas nikmat yang telah dianugerahkan oleh Tuhan yang Maha Esa. Selain itu juga sebagai sebagai sedekah dan pahala dari sedekah dapat sampai pada leluhur.

Prosesi tradisi nyadran di Desa Plampangrejo diawali dengan kegiatan nyekar yang dilakukan oleh juru kunci. Nyekar berasal dari kata sekar yang berarti kembang atau bunga, dapat dikatakan bahwa nyekar adalah sebagai satu bentuk tradisi ziarah kubur dengan membawa bunga kemudian ditaburkan pada makam yang ditujukan kepada nenek moyang dan arwah leluhur. Prosesi nyekar atau ziarah kubur ini ditujukan kepada Mbah Kendilwesi sebagai leluhur masyarakat Desa Plampangrejo. Dalam prosesi ini juru kunci terlebih dahulu membakar kemenyan yang kemudian dilanjutkan dengan menaburkan bunga telon dan ditutup dengan membacakan doa-doa.

Setelah prosesi nyekar selesai dilakukan oleh juru kunci maka dilanjutkan dengan prosesi kenduri (makan bersama). Sebelum kenduri sesepuh desa memanjatkan doa kepada Tuhan yang Maha Esa agar para leluhur, seluruh masyarakat Desa Plampangrejo dapat diberikan kesehatan dan keselamatan. Kemudian juga berdoa agar hajatan yang akan diselenggarakan dapat diberikan kelancaran dan kesuksesan. Pembacaan doa dilakukan secara dua kali, yaitu pertama berdoa dengan menggunakan bahasa Jawa dan ditutup dengan pembacaan doa dalam bahasa Arab. Hal ini menunjukkan jika tradisi nyadran di Desa Plampangrejo merupakan tradisi nenek moyang yang sudah dialkuturasikan dengan agama Islam.

Pada proses kenduri semua aneka makanan yang dibawa kemudian dibagikan kepada seluruh masyarakat yang ikut tradisi nyadran. Semua berkumpul dalam satu tempat, berbaur tanpa memandang status sosial, kelas, golongan, dan sebagainya. Semua menikmati aneka makanan yang didapatkan dengan rasa suka cita. Dalam hal ini tradisi nyadran menjelma menjadi ajang silaturahmi, wahana perekat sosial, sarana membangun jati diri bangsa, rasa kebangsaan dan nasionalisme. Maka tidak heran bila tradisi nyadran di Desa Plampangrejo akrab dengan nilai-nilai kearifan lokal bangsa Indonesia.

Setelah melaksanakan prosesi kenduri, maka tradisi nyadran Mbah Kendilwesi telah selesai dilaksanakan. Dengan begitu masyarakat Desa Plampangrejo percaya bila hajatan yang akan diadakan berjalan dengan lancar dan sukses. Masyarakat Desa Plampangrejo memiliki kepercayaan apabila akan mengadakan hajatan tetapi tidak melakukan tradisi nyadran Mbah Kendilwesi, maka akan berdampak buruk bagi terlaksananya acara, misalnya tidak matangnya suatu masakan. Biasanya yang terjadi di Desa Plampangrejo ialah tidak matangnya dodol (jenang), dan yang paling ekstrim ialah tidak matangnya nasi. Hal ini sangat mempengaruhi kelancaran suatu hajatan.

Sudah menjadi kepuasan dan ketenangan tersendiri bagi masyarakat bila sudah melaksanakan tradisi nyadran Mbah Kendilwesi. Tidak heran jika tradisi Nyadran Mbah Kendilwesi tidak dapat terlepas dari identitas masyarakat Desa Plampangrejo. Namun sayangnya tradisi ini tidak banyak diketahui oleh para pemuda, sehingga ditakutkan bila nantinya tradisi nyadran ini tidak ada yang meneruskan dan menghilang. Maka diperlukan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah untuk dapat terus melestarikan tradisi nyadran ini.


Minggu, 22 Februari 2015

      Beberapa Keuntungan Arsitektur Three-Tier
  • Keluwesan teknologi
  • Mudah untuk mengubah DBMS engine
  • Memungkinkan pula middle tier ke platform yang berbeda
  • Biaya jangka panjang yang rendah
  • Perubahan-perubahan cukup dilakukan pada middle tier daripada pada aplikasi keseluruhan
  • Keunggulan kompetitif
  • Kekampuan untuk bereaksi thd perubahan bisnis dengan cepat, dengan cara mengubah modul kode daripada mengubah keseluruhan aplikas
  • Keamanan dibelakang firewall
  • Apabila terjadi kesalahan pada salah satu lapisan maka tidak akan menyebabkan lapisan lain ikut salah
  • Penggunaan middleware mendukung efisiensi query database dalam SQL dipakai untuk menangani pengambilan informasi dari database.

Kekurangan arsitekture Three Tier :
• Lebih susah untuk merancang
• Lebih susah untuk mengatur
• Lebih mahal untuk ditepakan pada konsep jaringan yang sederhana dan jangka waktu lebih pendek


rumah minimalis type 36

teman - teman, ini gambar-gambar rumah minimalis type 36

Konsep minimalis dapat membawa pengaruh besar apabila diterapkan pada bangunan rumah. Dengan kata lain, sekali sebuah rumah menggunakan konsep minimalis, maka dengan sendirinya elemen-elemen lain yang berhubungan dengan rumah itu sendiri harus menggunakan konsep yang sama. Satu contoh misalnya pagar rumah minimalis, pagar minimalis memang selayaknya dibuat agar tercipta keselarasan antara desain rumah dan desain pagar. Bahkan bukan hanya pagar, struktur dalam rumah mencakup desain ruangan sekaligus perabot serta aksesoris yang digunakan juga harus minimalis. Jadi jika gaya minimalis diterapkan pada sebuah rumah maka hal tersebut akan berpengaruh pada desain rumah secara keseluruhan baik interior ataupun interiornya.
 inilah contoh-contohnya:





Sabtu, 21 Februari 2015

Arsitek, Kreativitas dan Pengolahan Bentuk
     
    Kata kreativitas tentu bukan sesuatu yang asing lagi bagi orang-orang yang berkecimpung di bidang perancangan, salah satunya arsitektur. Pameo “perancangan tanpa kreativitas ibarat sayur tanpa garam” misalnya, adalah kata-kata yang acapkali terdengar di dunia pendidikan arsitektur untuk menekankan pentingnya hal ini. Karenanya, kata kreativitas seringkali menjadi pemacu semangat dalam proses merancang, namun tidak jarang pula ia terasa bagai momok bagi para pemula dan mahasiswa perancangan. Hal ini dikarenakan mereka merasakan adanya tuntutan yang besar untuk membuktikan kreativitas lewat hasil rancangan mereka.
       Kreativitas di dalam arsitektur seringkali diwujudkan dalam pengolahan bentuk fisik bangunan yang aneh dan menarik perhatian. Semakin aneh dan menarik perhatian bentuk yang dihasilkan, semakin kreatiflah si arsitek itu dianggap oleh diri dan lingkungannya. Hal serupa terjadi pula di kalangan mahasiswa arsitektur dan dunia pendidikan arsitektur pada umumnya. Bentuk yang berbeda dan mencolok kerap kali mengundang decak kagum dan perhatian, baik dari sesama mahasiswa maupun dari para dosen. Predikat kreatif lalu dianggap telah pantas disematkan pada mahasiswa yang bersangkutan.
Pemaknaan kreativitas sebagai kemampuan pengolahan bentuk semata, seperti dijelaskan di atas, sebenarnya merupakan sebuah pandangan yang memaknai kreativitas secara sempit. Kerangka pikir ini akhirnya mengarahkan para arsitek untuk berlomba-lomba mencari bentuk-bentuk baru yang rumit, menarik perhatian dan mencengangkan. Sebaliknya, mereka tampaknya tidak terlalu peduli apakah bentuk-bentuk yang baru itu memiliki makna yang dipahami oleh masyarakat ataukah tidak. Padahal, masyarakatlah yang sehari-hari akan berinteraksi dengan bangunan yang mereka rancang. Sebaliknya, sang arsitek mungkin hanya satu dua kali (atau mungkin tidak pernah lagi) mengunjungi bangunan yang dirancangnya. Dengan demikian, ia tentu tidak akan pernah menyadari dampak apa yang ditimbulkan oleh bangunan yang dirancangnya kepada orang lain. Apakah masyarakat memperoleh dampak yang positif, atau malah negatif? Mereka tidak pernah tahu. Maka, kreativitas bisa jadi bukanlah sebutan yang tepat bagi sebuah tindakan penonjolan bentuk fisik sebuah obyek arsitektur, terlebih jika hal itu dibingkai pula oleh ketidakpedulian si arsitek akan dampak tindakannya di kemudian hari.
           Tidak jarang pula terjadi, arsitek bahkan tidak menyadari apakah kreativitas yang ia miliki dan ia wujudkan dalam bentuk-bentuk yang aneh itu merupakan cerminan dari idealisme-nya sebagai arsitek, ataukah justru hanya bayangan buram dari egoisme-nya yang ingin diakui, dikenal dan dihargai. Idealisme hadir sebagai wujud pertanggungjawaban dari latar belakang pendidikan yang dimilikinya. Sebaliknya, egoisme justru lebih merupakan gambaran ketidakterdidikan yang tersembunyi di balik gelar-gelar akademisnya. Salah satu contoh kearifan di masa lalu tampaknya dapat diangkat di sini untuk menunjukkan bahwa kreativitas yang dimiliki si arsitek tidak selalu harus diukur dengan seberapa terkenalnya mereka di masyarakat. Adalah sebuah kenyataan yang menarik untuk dicermati, bahwa perkembangan pesat arsitektur Islam di awal peradaban Islam tidak diikuti dengan penyebutan banyak nama sebagai arsitek dari bangunan-bangunan istana dan masjid-masjid kuno di Asia Tengah dan Eropa Selatan. Sebagian besar mereka tampaknya mencukupkan diri berada di balik layar dan membiarkan masyarakat menilai kualitas bangunan yang mereka rancang. Fenomena yang berbeda tampak saat ini, di mana kebanyakan arsitek berlomba-lomba untuk dikenal tanpa pernah dapat menghasilkan karya yang pantas disebut sebagai arsitektur; “arsitek tanpa arsitektur”.

         Di dunia yang majemuk ini, tampaknya para arsitek harus dapat menarik garis tegas untuk memisahkan “egoisme” mereka dengan “idealisme” dalam berarsitektur, terutama untuk hal-hal yang dianggap membenturkan kreativitas (baca: pengolahan bentuk) dengan realitas di masyarakat. Ada kalanya arsitek perlu belajar untuk lebih banyak mendengar, merasakan, berempati dan mengakui bahwa sebagai manusia, mereka juga memiliki kekurangan. Dengan demikian, mereka tidak akan memaksakan, dengan alasan “kreativitas”, untuk menghadirkan bentuk-bentuk arsitektural yang bisa jadi hanya baik di mata mereka sendiri, bukan di mata masyarakat banyak. Kreativitas harus dikembalikan pada kedudukannya yang tepat dan diberikan makna yang sesuai, bukannya sebagai kemampuan pengolahan bentuk-bentuk fisik semata.
TEMAN, TAHUKAH BAHWA PEREMPUAN INDONESIA ITU LUAR BIASA LHO!!


Dua Arsitek Perempuan Asal Indonesia Mengukir Prestasi


Minggu ini, dua perempuan asal Indonesia akan bertemu dalam wisuda di Universitas Adelaide, Australia. Keduanya menekuni bidang arsitektur, satunya profesor dan yang lainnya doktor yang baru lulus. Sebuah pencapaian membanggakan, tapi menurut mereka, kiprah perempuan di bidang arsitektur masih kurang terdengar.
Setelah empat tahun, Cynthia Erlita Wuisang merampungkan studi S3 atau PhD nya di University of Adelaide, Australia Selatan. Upacara yang akan berlangsung tanggal 18 September 2014 nanti menjadi ajang perayaan dan peresmiannya.
Perempuan yang di Indonesia bekerja sebagai arsitek dan dosen di Universitas Sam Ratulangi, Manado, tersebut akan dibacakan namanya oleh Veronica Soebarto, profesor dan ketua sementara Fakultas Arsitektur University of Adelaide.
Selain sebagai pembaca nama, Veronica juga berperan sebagai pembimbing Cynthia dalam proses penyelesaian thesisnya, yang membahas pentingnya peran lansekap kebudayaan, atau cultural landscape, dalam proses pembangunan suatu wilayah.
Sepak terjang Cynthia dalam menyelesaikan thesisnya perlu diacungi jempol, ujar Veronica, yang dulu pernah menimba ilmu di Universitas Indonesia dan juga di Texas A&M University, Amerika Serikat.

Cynthia Wuisang bekerja sebagai dosen tetapi juga masih berpraktek sebagai arsitek. (Foto: Cynthia Wuisang)


Bangunan –bangunan nyentrik plus menakjubkan

1.   Krzywy Domek, Sopot (Polandia) 



Bangunan ini merupakan desain dari Szotynscy Zaleski. Letaknya di Rezydent Shopping Center, Sopot, Polandia.


2.   Cubic Houses, Rotterdam (Belanda) 






Arsiteknya adalah Piet Blom. Perumahan ini didesain seperti sebuah desa di dalam kota, setiap rumah ibarat pohon yang berada di dalam hutan belantara.



3. Lotus Temple, Delhi (India)






Lotus Temple selesai dibangun pada tahun 1986. Kuil ini telah memenangkan berbagai lomba arsitektur.
Description: solar furnace, france




































Inilah bangunan tungku matahar terbesar di dunia. Tungku matahari di Odeillo di-Pyrenees Orientales di Perancis bisa mencapai suhu sampai 3.500 derajat Celcius (6330 derahat Fahrenheit).




Desain rumah yang sangat menonjol keunikannya adalah dari Tana Toraja, Sumatra Selatan, Bali, Lombok, dan Papua serta masih banyak lagi yang lainnya. Masing – masing rumah dari daerah ini mencerminkan keunikan adat istiadat serta budaya masyarakat setempat. Bali merupakan salah satu daerah wisata yang terkenal di Indonesia.

Hasil karya arsitek di Bali memiliki keunikan tersendiri. Desain dan arsitektur rumah di Bali sangat jauh berbeda dari wilayah lainnya di Indonesia. Banyaknya ornamen dan hiasan pada setiap rumah Bali memberikan kesan keindahan tersendiri yang mungkin tidak bisa dibandingkan dengan yang lainnya. Untuk membuat rumah di Bali dengan arsitektur Bali tentu diperlukan perhitungan yang rumit yang disebabkan oleh ornamen yang akan dipakai.

Seiring dengan perkembangan mode rumah, arsitektur rumah Bali ditampilkan dengan kombinasi arsitektur moderen dan minimalis. Ini terlihat dari banyaknya villa di Bali yang lebih cendrung menyajikan kombinasi arsitektur Bali yang megah dengan sentuhan desain moderen atau moderen minimalis. Hasil kombinasi arsitektur Bali dengan kombinasi moderen minimalis ini lebih mewah. Sebagian besar villa di Bali dan hotel di Bali lebih menyukai arsitektur rumah Bali dengan dekorasi interior moderen sehingga menghasilkan karya seni yang megah. berikut contohnya